HERMENEUTIKA MUHAMMAD SYAHRUR

  • Mohammad Lutfianto Sekolah Tinggi Ilmu Ushuluddin Darussalam
  • Fitrotun Nafsiyah Sekolah Tinggi Ilmu Ushuluddin Darussalam Bangkalan, Indonesia

Abstract

Salah satu tokoh yang memiliki peran besar dalam merekonstruksi konsep sunnah adalah Muhammad Syahrur (untuk selanjutnya ditulis Syahrur). Ia menawarkan pembacaan kontemporer terhadap sumber hukum Islam termasuk sunnah. Dalam pandangannya, untuk memahami teks keagamaan tidak perlu selamanya mengedepankan penafsiran ulama tradisional. Sebab semestinya ditafsirkan sebagaimana zamannya. prinsip hermeneutika yang Syahrur yakini adalah; pertama, pembaca sangat mungkin mengetahui maksud penulis dengan membaca teks saja, tanpa harus merujuk pada penulis teks. Kedua, tidak seorang pun yang berhak mengklaim keabsolutan pemahaman atas apa yang dia baca. Ketiga, ketiadaan seorang Nabi pasca Nabi Muhammad, meniscayakan bahwa pemahaman terhadap teks-teks keagamaan akan selalu relatif. Keempat, fleksibilitas makna dapat diterapkan sesuai kondisi sosial yang berubah. Kelima, al-Qur’an dan teks keagamaan lainnya -termasuk sunnah- tidak mengalami redudansi, semantik dan sinonimitas (persamaan makna suatu kata) absolut. 

Published
Apr 1, 2022
How to Cite
LUTFIANTO, Mohammad; NAFSIYAH, Fitrotun. HERMENEUTIKA MUHAMMAD SYAHRUR. Al-Thiqah : Jurnal Ilmu Keislaman, [S.l.], v. 5, n. 1, p. 17-30, apr. 2022. ISSN 2685-9467. Available at: <http://ejurnal.stiuda.ac.id/index.php/althiqah/article/view/62>. Date accessed: 14 aug. 2022. doi: http://dx.doi.org/10.56594/althiqah.v5i1.62.
Section
Articles