Kaidah Tafsir

  • Fatichatus Sa’diyah Sekolah Tinggi Ilmu Ushuluddin Darussalam Bangkalan, Indonesia

Abstract

Orang yang menafsirkan al-Qur’an memiliki peranan penting bahkan turut menentukan bagi pemasyarakatan al-Qur’an. Untuk itu, mufasir perlu memiliki syarat-syarat tertentu.  Selanjutnya, hendaknya ia jadikan tata cara dan aturan penafsiran al-Qur’an sebagai suluh pandangan dan pemikiran, serta mempergunakannya untuk mengamati berbagai peristiwa yang telah lalu maupun yang akan datang. Dengan berpedoman pada hal tersebut, maka seseorang calon mufasir akan mengetahui dengan jelas betapa tinggi nilai dan kedudukan petunjuk al-Qur’an. Dan kaidah-kaidah yang terdapat dalam tata cara menafsirkan al-Qur’an dapat dimanfaatkan sebagai pedoman untuk menafsirkan ayat al-Qur’an.  Kaidah-kaidah yang diperlukan para mufasir dalam memahami ayat al-Qur’an di antaranya terpusat pada kaidah bahasa dan penghayatan uslu>bnya yang banyak diulas dalam ilmu bahasa Arab.


Dalam artikel ini penulis akan sedikit menguraikan tentang bagaimana urgensi kaidah tafsir untuk penafsiran al-Qur’an, dan kaidah-kaidah apa saja yang harus dipahami oleh mufasir sebelum menafsirkan.


Para ulama sepakat untuk menetapkan bahwa tujuan utama dari kaidah-kaidah tafsir adalah untuk memberikan pedoman bagi mufasir agar tidak menyimpang dari kebenaran ketika menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an. Kaidah-kaidah itu di antaranya; kaidah jumlah, kaidah ma`rifah dan nakirah, kaidah istifha>m, kaidah soal dan jawab, kaidah i`ra>b, dan kaidah taqdi>m dan ta’khi>r.

Published
May 6, 2021
How to Cite
SA’DIYAH, Fatichatus. Kaidah Tafsir. AL-THIQAH : Jurnal Ilmu Keislaman, [S.l.], v. 4, n. 1, p. 1-27, may 2021. ISSN 2685-9467. Available at: <http://ejurnal.stiuda.ac.id/index.php/althiqah/article/view/45>. Date accessed: 25 sep. 2021.
Section
Articles